“Apa kamu masih mencintaiku”
Malam mulai dingin, sangat dingin. Rasanya hati ini membeku ketika pertanyaanmu itu keluar dari bibirmu. Malam ini tidak dengan senyummu, tidak pula dengan tawamu.
Raut wajahmu seperti ingin meleleh dihempaskan kedasar lautan hingga tenggelam didalamnya.
“Masih!” Sahutku tak percaya bahwa aku sendiri ragu mengatakannya.
Kamu palingkan wajahmu dariku. Seakan tak percaya dengan ucapanku. Kamu menyandarkan kepalamu pada bahuku. Menatap kelangit seakan hari ini malam terakhir kita bersama. Sementara esok kita sendiri tidak tau apakah masih bersama atau tidak.
“Kau tahu kenapa aku sangat mencintaimu walaupun kamu ragu kepada cintaku?” Lantas dia menggandeng tanganku sangat erat. Erat sekali seakan tak ingin hari ini berakhir dengan keputusan bahwa kami akan pergi. Meninggalkan satu sama lain.
“Aku tidak mengerti, kenapa?” aku mulai serius menanggapi pertanyan yang dia berikan kepadaku. Aku memindahkan bahuku dan kembali menatap matanya yang berkaca kaca. Kupikir hujan akan turun malam ini.
“Kembali lagi kepada alasan mengapa kita memutuskan untuk bersama, hari hari bahagia yang mana senyumku adalah alasan untukmu mencintaiku. Tak apa jika kamu meragukanku. Sebab pertengkaran kita setiap ada masalah. Namun kamu harus tahu bahwa dari setiap pertengkaran itu tak satupun terbesit difikiran;ku untuk meninggalkanmu.”
Dia menangis, untuk kesekian kalinya dia menangis dihadapanku. Kali ini bukan sebab bahagia, bukan sebab tertawa bukan pula terharu kepada setap kejutan yang aku berikan. Aku memeluknya, membiarkan dia menangis dipelukanku. Ku usap rambut panjangnya. Kubisikan didekat tilinganya bahwa “Aku tidak akan meninggalkanmu”
Kembali lagi, aku ingin mengertimu. Kembali ngin mencintaimu tanpa keragu raguan. Kembali ingin memperjuangkanmu, tanpa ada fikiran untuk meninggalkanmu. Sebab kegelisahanku. Malam ini hujan sangat deras. Membawaku kepada dua pilihan yang mana akan menentukan diriku dan dirimu. Dan aku memilih mencintaimu.
Yusuf Hafizh
2018/01



No comments:
Post a Comment